Zikir Di Dalam Hidup

dzikir-1Oleh: Al-Faqiir Ilaa Rabbih, Musthafa Umar

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Sesiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Q.S. Al-Munafiquun : 9]

Ayat ini menerangkan bahawasanya berzikir kepada Allah merupakan kemestian di dalam hidup. Berzikir hendaklah dilakukan pada setiap saat disepanjang masa. Perhiasan hidup seperti harta dan anak-anak hendaknya jangan melalaikan kita daripada berzikir kepada Allah. Kelalaian dalam berzikir adalah suatu kerugian yang besar.

Makna dan Nilai Zikir
Zikir secara bahasa maknanya ‘ingat’. Berzikir kepada Allah maknanya mengingat Allah. Berzikir di dalam hidup bererti mengingat Allah dalam segala perbuatan hidup ; bangun, bekerja, makan, minum, berpakaian, belajar, mengajar dan lain sebagainya. Berzikir dalam suatu perbuatan ditunjukkan dengan pembacaan do’a diawalnya, mengingat Allah disepanjang mengerjakannya, dan memuji Allah selepas melakukannya.

Perbuatan yang bernilai zikir akan dikira sebagai perbuatan baik (amal shaleh) yang akan dibalas dengan kebaikan atau pahala. Amal shaleh yang memiliki nilai zikir yang sangat tinggi adalah seperti shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Quran, menyebut nama-nama Allah (Al-Asmaa ul-Husnaa), memperhatikan ciptaan Allah, memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah, mensyukuri nikmat Allah dan lain-lainnya. Nilai zikir akan semakin tinggi apabila keikhlasan dan kesungguhan semakin sempurna. (more…)

Berjiwa Masjid

Oleh: Al-Faqiir Ilaa Rabbih, Musthafa Umar

Masjid adalah rumah Allah di muka bumi. Didalam Al-Quran disebutkan bahwa yang mengimarahkan masjid adalah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, yang mendirikan sholat dan membayarkan zakat, dan yang sangat takut kepada murka Allah. [lihat Surah At-Taubah (9) : 18]

Masjid adalah tempat yang suci; tempat ibadah, menimba ilmu dan beri’tikaf. Masjid bukan sarana mengejar kepentingan dunia yang tidak berharga. Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang mendengar seseorang mencari barang yang hilang di masjid maka katakan kepadanya ‘semoga Allah tidak akan mengembalikan barangmu itu, sesungguhnya masjid tidak didirikan untuk perkara yang seperti ini”. (H.R.Muslim, Abu Daud dan Ahmad). Penjelasannya, mencari barang yang hilang adalah perkara dunia, maka jangan cemarkan masjid dengan perkara remeh-temeh seperti itu! (more…)

Penyakit dan Kesembuhan

SakitAl-Faqiir Ilaa Rabbih: Musthafa Umar.

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,” [Q.S. Asy-Syu’araa : 80]

Ayat ini menerangkan keimanan nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam bahwa yang menyembuhkan penyakit adalah Allah Subhanahu wata’ala. Keimanan yang seperti itu patutlah kita miliki pula sehingga hidup menjadi lurus dan benar. Hal ini adalah penting karena tidak ada diantara kita yang memiliki jaminan dapat terlepas dari penyakit.

Makna dan Jenis Penyakit.
Penyakit maknanya apa saja perkara yang boleh mendatangkan rasa sakit kepada kita. Ada diantara penyakit itu yang mendatangkan rasa sakit kepada badan kita ; seperti penyakit jantung, paru-paru, kulit dan lain sebagainya. Ada pula penyakit yang mendatangkan rasa sakit kepada akal kita ; seperti lupa dan kurang ingatan. Dan ada pula yang mendatangkan rasa sakit kepada hati atau jiwa kita ; seperti penyakit dengki, sombong, tamak dan lain sebagainya. (more…)

Ribuan Masyarakat Riau Hadiri Tabligh Akbar “Membongkar Kesesatan Syiah”

Tabligh Akbar Membongkar Kesesatan SyiahHidayatullah.com–Lebih dari Seribu masyarakat Riau turut hadir dan berpartisipasi dalam acara Tabligh Akbar “Membongkar Kesesatan Syiah” pada Ahad, 29 Desember 2013 di aula Masjid Agung An-Nuur Pekanbaru, Riau.

Acara yang ditaja oleh Tafaqquh Study Club bersama dengan MUI Pusat, FSRMM serta berbagai ormas Islam ini menghadirkan Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA (ulama tafsir), Ustadz Abdul Somad, Lc. MA (ulama hadits), Ustadz Fahmi Salim, MA (Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Pusat, Wasekjen MIUMI), Dzikrullah (Pendiri Sahabat Al-Aqsha), dan Ustadz Roni Chandra, S.Pdi (muballigh Muhammadiyah).

Dr. Musthafa Umar saat mengawali pembicaraan menjelaskan bahwa Syiah ibaratkan racun dalam tubuh yang harus dikeluarkan.

“Andaikan kita sebagai seorang dokter, apabila didatangi oleh seorang pasien yang sakit disebabkan racun dalam tubuhnya. Maka mesti kita menyelamatkan tubuh pasien ini, yaitu dengan cara racun yang ada dalam tubuh pasien ini dibuang. Pertemuan kita pagi ini adalah dalam rangka membuang racun itu dalam tubuh umat Islam. Kalau kita tidak berbicara, kita akan diminta pertanggung-jawaban oleh Allah. (more…)

Hadirilah Seminar “Membongkar Misi Syiah dan Zionis dalam Menghancurkan Islam”

SminarSyiah UIN SuskaAssalamu’alaikum. Hadirilah Seminar Akhir Tahun dengan tema “Membongkar Misi Syiah dan Zionis dalam Menghancurkan Islam” bersama:

  • Syaikh Dr. Abu Aiman Al-Qomary Al-Afriky
  • Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA (Ulama Riau)
  • Ustadz Fahmi Salim, MA (Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia)
  • Prof. Dr. Ilyas Husti, MA (Ketua MUI Pekanbaru)
  • Roni Candra, S.Pd.I (Aktivis Muhammadiyah Pekanbaru)

Pada: Sabtu, 28 Desember 2013 pukul 08.00 WIB sampai selesai. Bertempat di: gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UIN Suska Riau. (more…)

Ancaman Bila Tidak Berharap Kepada Allah

SAM_3549Ancaman Bila Tidak Berharap Kepada Allah*

01. Berharap kepada Allah adalah bukti keimanan kepada Allah.

02. QS. Yunus: 7-8: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.”

03. Orang-orang yang berpuas hati dengan kehidupan dunia, tidak terpikir akhirat; merasa tenang-tenang saja dalam hidup, tidak memandang hidup sebagai ujian; dan lalai dari ayat-ayat Allah. Ancaman terhadap orang yang seperti ini; api neraka.

04. Manusia itu terbagi dua; beriman dan kafir, sebagaimana di akhirat nanti juga ada dua tempat syurga dan neraka.

05. Orang-orang beriman mengharapkan pertemuan dengan Allah; sebab Allah adalah yang dicintai.

06. Kita mencintai sesuatu karena kebaikan-kebaikan yang telah diterima; semua kebaikan yang kita terima saat ini berasal dari Allah.

07. Orang-orang yang tidak berharap bertemu dengan Allah, berarti mereka ini tidak mencintai Allah, tidak beriman kepada Allah, dan tidak mengenal Allah yang telah memberikan banyak kebaikan kepadanya, inilah contoh orang yang angkuh dan sombong.

08. Banyak orang yang berpuas hati dengan kehidupan dunia, tidak sedikitpun teringat akhirat. Berpuas hati dengan rumah yang megah, kendaraan yang mewah, anak yang berhasil dalam pendidikan dan sebagainya; tidak sedikitpun mengingat Allah yang telah memberikan segala hal tersebut, tidak ada terucap syukur kepada-Nya, tidak mengembalikan segalanya kepada Allah.

09. Orang yang seperti ini akan takut mati; sebab ia akan dipisahkan dengan segala hal yang telah ia terima.

10. Mengenal Allah, beriman kepada Allah, mencintai Allah, dan berharap bertemu dengan Allah; inilah hal-hal yang semestinya kita jalani dalam hidup.

11. Mengapa banyak masalah timbul di masyarakat? Sebab tujuan hidup tidak berorientasi pada akhirat, hanya sebatas dunia saja.

12. “..dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,” kalau sudah begini keadaan manusia, tempat kediaman mereka adalah api neraka sebagai akibat dari kelalaian tersebut.

13. Betulkah kita benar-benar berharap bertemu dengan Allah? Kalau betul, berhasil-lah kita dalam ujian.

14. Orang yang berharap untuk bertemu dengan Allah akan membenci yang menghalangnya untuk bertemu dengan Allah. Apa yang menghalang kita untuk bertemu dengan-Nya? Ialah dunia ini.

15. Orang yang berharap bertemu dengan Allah, berpikir semakin cepat meninggalkan dunia ini semakin baik.

16. Bukan berarti ia berputus asa hidup di dunia; namun ia sadar sepenuhnya bahwa hidup ini untuk akhirat.

*Ringkasan Pengajian “Harap” ke-8 bersama Ustadz Musthafa Umar, Lc. MA di Masjid Agung An-Nuur Provinsi Riau, Ahad Subuh/08 Desember 2013, oleh: Redaksi Tafaqquh

1 2 3 4